“nama saya musdalifah, saya penduduk asli negeri ini, yang bernama Pelalawan. Negeri ini dulunya berasal dari sebuah kerajaan melayu yang bernama kerajaan pelalawan. Kerajaan Pelalawan pernah dilanda sebuah perang besar dengan kerajaan Siak, yaitu pada tahun 1797 sampai 1798.

Perang itu berpusat di sebuah teluk yang bernama Mempusun, yang menjadi benteng pertahanan utama bagi kerajaan Pelalawan” “pagi ini saya sudah berjanji dengan bang Tengku Liswan untuk melihat sisa-sisa benteng pertahanan kerajaan pelalawan di teluk mempusun.

Sekaligus ingin mendengarkan langsung darinya..tentang sejarah kerajaan Pelalawan, untung saja bang Liswan membawa datuk penghulu koto ikut dalam perjalanan kami. Datuk penghulu koto itu derajatnya adalah setingkat dengan kepala desa” “Tuk Penghulu menceritakan banyak hal yang belum saya ketahui selama ini, terutama tentang kerajaan pelalawan tempat muasal nenek moyang kami.

Tuk Penghulu mengatakan kepada saya bahwa Kerajaan pelalawan awalnya merupakan bahagian dari Kerajaan Johor. Namun setelah terbunuhnya Sultan Mahmud Syah II, Kerajaan Pelalawan melepaskan diri dari Kerajaan Johor tersebut, sebab penguasa Kerajaan Johor pada masa itu bukan lagi keturunan Sultan Mahmud Syah II yang tewas saat itu. Dan Kerajaan Pelalawan pada masa itu dipimpin oleh Maharaja Dinda II.

Seiring dengan itu pada tahun 1723 berdiri kerajaan Siak Sri Indrapura di Buantan yang diperintah oleh Raja Kecik yang merupakan keturunan dari Sultan Mahmud Syah II. Pada tahun 1787 Raja Siak Sri Indrapura masa itu yakni Sultan Sayyid Ali Abdul Jalil Saifuddin meminta Kerajaan Pelalawan untuk tunduk dan mengakui kerajaan Siak Sri Indrapura, dengan alasan Kerajaan Siak diperintah oleh Keturunan Raja Johor, yang pada masa lalu Kerajaan Pelalawan merupakan bahagian dari Kerajaan Johor. Namun permintaan Siak tidak diikuti oleh Kerajaan Pelalawan, sehingga akhirnya Kerajaan Siak mengirim armada militernya untuk berperang dengan Pelalawan.

Dan salah satu perang besar itu berlangsung di Teluk Mempusun. “Inilah muara sungai mempusun yang berhulu di sungai kampar. Disinilah lokasi perang besar itu pernah terjadi..” “penyerangan Siak terhadap Pelalawan ini berlangsung sebanyak dua kali, yakni tahun 1797 dan tahun 1798. Perang besar antara dua kerajaan yang bertetangga ini berlangsung hingga berbulan-bulan lamanya dan menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak.

“Saat ini peninggalan meriam-meriam kerajaan pelalawan masih dapat terlihat dan terjaga. Banyaknya meriam-meriam disekitar pelalawan ini, menjadi penanda besarnya angkatan perang yang terlibat dalam perang di pelalawan. “ini rumah panglima Kudin, salah seorang perwira kerajaan pelalawan yang tewas dalam perang siak dan pelalawan. Sejak dahulu kala jiwa kepahlawanan dan kesetiaan kepada bangsa telah menjadi nafas warga kampung pelalawan. Saya meyakini bahwa tidak akan ada yang sia-sia dalam mempertahankan keyakinan dalam kebenaran….”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *